PWK ITN Malang Hadirkan Tiga Narasumber Bahas Konsep Daya Saing Wisata Berkelanjutan Bromo Tengger Semeru

PWK ITN Malang Hadirkan Tiga Narasumber Bahas Konsep Daya Saing Wisata Berkelanjutan Bromo Tengger Semeru

Kepala Bappeda Kabupaten Malang, Ir Tomie Herawanto MP, memaparkan strategi wisata berkelanjutan Bromo Tengger Semeru, pada Seminar Nasional PWK ITN Malang 2022. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)
Malang, ITN.AC.ID – Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menggelar seminar nasional, di Auditorium Kampus 1 ITN Malang, Kamis (15/12/2022). Seminar Nasional bertajuk ‘Konsep dan Peningkatan Daya Saing Wisata Berkelanjutan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru’ menghadirkan tiga narasumber. Yakni, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang, Ir Tomie Herawanto MP, Kepala Balai TNBTS C. Hendro Wijdanarko, dan Kepala Bidang Perekonomian, SDA, Infrastruktur dan Kewilayahan, Bappeda Lumajang, Puguh Budi Laswono ST MT. Sahwa Nadia, koordinator seminar nasional mengatakan, salah satu isu Forum Internasional G20 yang dilaksanakan di Bali beberapa waktu lalu adalah perekonomian dan pariwisata. Bromo Tengger Semeru menjadi salah satu tempat wisata yang turut menunjang perekonomian empat kabupaten. “Kami di PWK juga mendapatkan mata kuliah kapita selekta. Tentang bagaimana cara kami melihat stakeholder mengambil kebijakan. Dalam hal ini kami mengangkat Bromo Tengger Semeru,” kata Sahwa. Bromo Tengger Semeru berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Berada di empat wilayah, yakni Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Lumajang. “Seminar nasional akan mengulik sikap stakeholder terhadap perkembangan ekonomi dan pariwisata di masing-masing daerah dengan adanya TNBTS. Maka, kami menghadirkan narasumber dari dua kabupaten, dan pihak TNBTS,” ujar mahasiswa semester lima ini.
Baca juga : Sumbangsih Untuk Daerah Sherly Belarobertha Masuk 10 Finalis Terbaik Wawarah in Osing
Kepala Bappeda Kabupaten Malang, Ir Tomie Herawanto MP, selaku narasumber mengatakan, empat kabupaten tersebut mempunyai potensi masing-masing. Hal khusus terkait kebijakan baik skala nasional, provinsi, sampai daerah kondisi dan kewenangan bersinergi dari pusat hingga daerah. Bromo Tengger Semeru merupakan proyek strategi nasional. Ke empat kabupaten saling mendukung, dan bersinergi dalam pengembangan pariwisata. Harus ada peran bersama dalam penataan ruang untuk memperkuat agar wisata bisa berkelanjutan.
Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), ITN Malang menggelar seminar nasional, di Auditorium Kampus 1 ITN Malang, Kamis (15/12/2022).
“Kami sudah melakukan pembangunan infrastruktur, penguatan SDM masyarakatnya. Empat kabupaten dalam pengembangan wisata harus ada sinergi dalam penataan ruang. Ini kalau kita berbicara pariwisata berkelanjutan,” kata Tomi. Kebijakan penataan ruang di Kabupaten Malang masih didominasi pertanian. Jadi menurut Tomi, masih banyak peluang pengembangan wisata alam. Tapi Tomi menegaskan, untuk tidak mengubah sawah menjadi cafe. “Intinya, perhatian utama TNBTS untuk merencanakan wisata harus juga memikirkan bagaimana menjaganya,” imbuhnya. Senada dengan Tomi, Kepala Bidang Perekonomian, SDA, Infrastruktur dan Kewilayahan, Bappeda Lumajang, Puguh Budi Laswono ST MT menyatakan, tiap wilayah memiliki potensi masing-masing. Bromo menjadi wisata khusus yang melingkupi hutan lindung dan konservasi. “Wilayah Lumajang 60 persen adalah hutan. Sehingga harus mengoptimalkan peran hutan sebagai salah satu peningkatan ekonomi. Meskipun masih ada kendala infrastruktur untuk masuk ke wilayah Lumajang,” kata Tomi. Sementara Kepala Balai TNBTS C. Hendro Wijdanarko selain angkat bicara mengenai kebijakan TNBTS, juga menyoroti adanya suku asli Tengger yang mendiami wilayah tersebut.
Baca juga : Bincang Kemerdekaan Ashadi Aboe Alumnus Himakpa: Kalau Masih ada Sampah di Gunung, Berarti Mental Kampungan
Kebijakan dan daya saing di Bromo Tengger Semeru tetap butuh keterlibatan masyarakat. Bromo Tengger Semeru sangat unik karena ada Suku Tengger yang selalu ditonjolkan, yang tidak lepas dari ketiga gunung tersebut. “Nah, untuk mahasiswa ini bisa diangkat menjadi penelitian lebih lanjut. Daerah Gunung Semeru belum banyak yang mengangkat potensi pariwisata,” ujarnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)