Tumbuhkan Identitas Air, PWK ITN Malang Gelar Planart Exhibition

Tumbuhkan Identitas Air, PWK ITN Malang Gelar Planart Exhibition

Saat musim penghujan, banjir menjadi langganan di beberapa titik di Kota Malang. Tapi ironisnya, bila musim kemarau bencana kekeringan menjadi isu, khususnya di Kabupaten Malang. Dimana di musim kemarau sumber air yang dulunya melimpah menjadi berkurang debitnya.

Kondisi tersebut dibidik dalam gelaran Planart Exhibition bertajuk Finding Water Identities, oleh mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Selasa (17/12/12). Foto dan informasi sumber air di Kabupaten Malang mulai dari sumber Brantas sampai waduk di bagian hilir terpotret rapi di sepanjang jalan menuju Gedung PWK kampus 1 ITN Malang, Jl. Bendungan Sigura-gura No. 2 Malang.

“Photography Exhibition ini memberi informasi kondisi real air baku yang selama ini terpendam. Saat ini (saat musim kemarau, Red) sumber baku atau debit air berkurang karena adanya kawasan pemukiman di sekitar sumber mata air itu,” jelas Mohammad Reza, ST,MURP, dosen PWK ITN Malang.

Lewat Planart Exhibition yang melibatkan mahasiswa semester 3 dan 5 ini, Reza berharap bisa membangun kesadaran publik khususnya mahasiswa PWK agar lebih memperhatikan sumber mata air sebagai penghidupan.

“Kami ingin menumbuhkan kembali identitas air sebagai suatu titik sentral peradaban, perubahan, dan kehidupan,” imbuh Reza.

Hal senada diungkapkan Sekretaris Prodi PWK, Ir. Titik Poerwati, MT. Isu tentang air yang berkembang seperti bencana air bandang, pencemaran air, dan lain-lain menjadi salah satu prioritas PWK. Maka, PWK ITN Malang berusaha mengamati bahwa sumber daya air masih ada dengan pengelolaan yang baik.

Sekretaris Prodi PWK, Ir. Titik Poerwati, MT menjelaskan isu tentang air yang berkembang menjadi salah satu prioritas PWK ITN Malang.

“Mahasiswa kami beri tugas untuk mengidentifikasi, mengamati, wawancara kepada warga, dan memfoto sumber mata air yang ada di Kabupaten Malang. Dari foto-foto tersebut kemudian dilihat permasalahannya, baru selanjutnya dituangkan dalam konsep desain pola ruang yang ramah lingkungan sebagai strategi,” ujar Titik.

Seperti tahun-tahun sebelumnya dimana PWK bekerjasama dengan pihak terkait, tahun inipun Titik berharap PWK bisa memberikan saran dan masukan kepada kelurahan dan kecamatan tempat dilakukannya kegiatan.

“Kami akan teruskan masukan, saran sebagai perbaikan. Misalnya pelestarian sumber air sekaligus sebagai tempat wisata. Atau bisa juga nantinya kami masukkan sebagai abdimas, dengan bekerjasama dengan mitra terkait. Mudah-mudahan daerahnya bisa menerima dan bekerjasama,” pungkasnya.